JELASFAKTA - Keputusan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran dilaporkan telah mencapai tahap final, dengan para pejabat pertahanan menggambarkan situasi saat ini sebagai masalah 'kapan, bukan jika'. Eskalasi ini memuncak seiring kedatangan armada tempur (armada) besar yang dipimpin kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln di perairan Timur Tengah, membawa pesan keras dari Washington setelah serangkaian diplomasi yang buntu.

Sumber-sumber Barat yang dikutip dalam laporan intelijen terbaru menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui opsi militer menyusul penumpasan brutal protes anti-pemerintah di Iran yang menewaskan puluhan ribu warga sipil serta percepatan kembali program nuklir Teheran. Armada tempur yang dijuluki 'massive armada' oleh Gedung Putih ini mencakup kapal perusak berpeluru kendali dan skuadron tempur udara canggih, yang memberikan Washington kemampuan serangan mandiri tanpa bergantung penuh pada pangkalan darat sekutu regional.

Eskalasi ini terjadi hanya tujuh bulan setelah 'Operasi Midnight Hammer' pada Juni 2025, di mana AS dan sekutunya melancarkan serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir di Natanz dan Fordow. Namun, intelijen terbaru menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya membangun kembali fasilitas tersebut jauh di bawah tanah—termasuk di situs baru Gunung Kolang Gaz La—tetapi juga meningkatkan retorika permusuhan. Kedatangan USS Abraham Lincoln, bersama dengan penyebaran jet tempur F-15E Strike Eagle tambahan ke Yordania dan pesawat pengebom strategis, menandai pergeseran postur dari pencegahan (deterrence) menjadi persiapan ofensif penuh.

Para pengamat militer menyoroti bahwa kali ini AS menghadapi tantangan logistik yang berbeda. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan telah menolak penggunaan wilayah udara mereka untuk serangan langsung guna menghindari serangan balasan Iran. Kendati demikian, kelompok tempur kapal induk yang kini beroperasi di Laut Arab memungkinkan AS melancarkan serangan udara masif dari laut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan dalam pertemuan kabinet bahwa militer siap melaksanakan perintah presiden 'dengan kecepatan dan kekerasan' jika ultimatum terakhir tidak dipenuhi.

Di sisi lain, Teheran telah menyiagakan korps Garda Revolusi (IRGC) dan mengancam akan menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia—jika serangan terjadi. Latihan angkatan laut Iran di dekat Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir menunjukkan upaya unjuk kekuatan asimetris menggunakan ratusan kapal cepat rudal. Dengan Israel yang berbagi data target intelijen secara real-time dan jalur diplomasi yang dinyatakan 'hampir tertutup', kawasan Timur Tengah kini berada di ambang konfrontasi militer terbesar dalam dekade ini.